Saturday, March 20, 2010

Ajarkan aku tentang SYUKUR

Ya Allah,
ajarkan aku tentang SYUKUR,
saat sempit dan terhimpit,
saat suka bercampur ceria
air mata atau ketawa
biar saja bila bila mana mana.

Dibaca dikata, dibicara dikelola
sudah datang berlepas pulang
tak mengamalkan
saat diuji lari lagi
alih2 tak kunjung tiba
mana syukur saat sempit dan terhimpit???...

Dengki itu syaitan
SYAITAN itu derhaka kepada TUHANNYA..
maka nikmat tuhanMu lagi yang engkau dustakan???

Berhari hari
berhati hati
Lekang iman ia datang
lupa daratan
jadi menggila lagi lupa segala janji
doa berbasa basi tak cuba aplikasi
usaha tak sekuat mana tapi harapan luarbiasa
Mana syukur saat sempit dan terhimpit???

SYUKUR...
saat sempit dan terhimpit
begini cerita...
ALLAH ajarkan kamu berlapang dada
lelaki dan perempuan ada rezeki, berbeda porsi
atas usaha masing masing
maka jangan cuba berkawan dengki
dengki itu SYAITAN..
SYAITAN itu derhaka
DERHAKA masuk NERAKA


Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (4:32)

ALHAMDULILLAH SYUKUR YA ALLAH <3>

Saturday, August 29, 2009

First Thing First

Assalamualaikum, ni first entry untuk summer hols..malas punya pasal..ni artikel yg ditulis untuk ISOC Manc Uni...belum proofread agi..nasibla =)..Aku bukan terror sangat English..aku kan Melayu tulen...


First Thing First... The Purification of the Soul

The intention of a person is not his utterance of the words, "I intend to do so and so." It is an overflowing from the heart which runs like conquests inspired by Allah. At times it is made easy, at other times, difficult. A person whose heart is overwhelmingly righteous finds it easy to summon good intentions at most times. Such a person has a heart generally inclined to the roots of goodness which, most of the time, blossom into the manifestation of good actions. As for those whose hearts incline towards and are overwhelmed by worldly matters, they find this difficult to accomplish and even obligatory acts of worship may become difficult and tiresome.

The Prophet (saw) said: "Actions are only by intention, and every man shall only have what he intended. Thus he whose hijra was for Allah and was for Allah and His Messenger, his hijra was for Allah and His Messenger, and he whose hijra was to achieve some worldly benefit or to take some woman in marriage, his hijra was for that for which he made hijra."(Bukhari and Muslim)

Imam ash-Shaf'i said: "This hadith is a third of all knowledge." The words, "actions are only by intention", mean that deeds which are performed in accordance with the sunnah are only acceptable and rewarded if the intentions behind them were sincere.

Umar ibn al-Khattab, may Allah be pleased with him, said: The best acts are doing what Allah has commanded, staying for away from what Allah has forbidden, and having sincere intentions towards what-ever Allah has required of us."

To set an intention is easy but not as easy as to present it with sincerity. Nevertheless, whatever struggle we encounter to establish sincerity within ourselves is a jihad and every effort will be surely facilitated by Allah if we are really really TRUE and DETERMINE in our intention. Man jadda wa jada- whoever strives, He will get it! We are not just a Muslim student but more importantly a Muslim who is continuously learning from every aspect of life. The battle for knowledge is perhaps the most relevant jihad for us as a student, considering our current condition which is full of limitations to contribute to this religion, both energy and money. Jihad is not necessarily going to war, indeed, whatever you are striving for, for the sake of Allah against your own desire is considered as a jihad. That is the simplest meaning of it. Sincere intention will surely drive us to a straight path towards success together with our strategic and constructive planning InshaAllah. Every good intention will be recorded as one good deed and when you act upon it, Allah will multiply it by ten times whereas every bad intention will not be recorded until you eventually do it. Subhanallah! This is the power of intention in Islam, motivating us to take a greater control of our life in transforming and manifesting a dream into reality by Allah’s will.

We are the selected ones, purposely chosen by Allah to carry on the legacy of previous generations to restore the excellence of Islamic civilization which we had once enjoyed. He did not create anything in vain. Allah the Most Merciful blesses us with three potentials to prepare us as His servants and to manage this earth wisely as a Caliph. A’ql (mind) to distinguish between good and evil, and to plant vision to achieve success, Qalb (heart) to drive our fitrah (nature) so that we remains on His straight path and not going astray, sidetracked from the real purpose of life and finally He gives us a physically fit body as a medium to engage in various activities and perform the best deeds to equip ourselves before we return back to Him one day.

In a hadith related by Bukhari and Muslim, God’s Messenger, upon him be peace and blessings, says Paradise is surrounded by troubles and tribulations, and Hell is folded in pleasures.”

No doubt, university life is full of treasures and challenges but do not let all the worldly attraction distract our main focus in the university. As Muslims, our responsibilities are far greater than getting a mere degree and to secure a high social status in the future. Although we are allowed to taste the pleasures of life to a certain extent, provided they are not specifically forbidden, we should not overindulge or forget our true destination. One formula: observe Allah’s rights and He will protect us and guide us all the way through. Sincere intention is not only at the beginning, in the middle or at the end of our actions, but it must always closely accompany us at all time to purify our actions. Submit ourselves wholeheartedly to Him alone and rely on Him, then we shall find peace and no grieve if we are a true believer.

We are the best amongst all creatures. Subhanallah, Allah is the Most Loving, always reward us more than what we deserve. This is the best time for us to self reflect and humbly offer thanks to Allah for giving us one more chance to continue our journey for academic excellence. Let us manifest our gratitude and gratefulness to Him by starting our first step in this very university with ‘Alhamdulillah, all praise is to you Allah” and setting our intention right, to study just for the sake of Allah, and for Allah alone inshaAllah. May Allah make everything easy for all knowledge lovers and may the knowledge we gained bring benefits to the Ummah and the whole world.

“O you who believe! if you help (the cause of) Allah, He will help you and make firm your feet.” (47:7)

References: 1. www.jannah.org

2. Imam Nawawi forty Hadith

3. http://islambyquestions.net

Tuesday, June 30, 2009

kasih kepada RASULULLAH SAW

Bukti cinta kepada Nabi SAW


Perarakan sempena sambutan Maulidur Rasul sambil berselawat dan salam ke atas junjungan besar merupakan antara bukti kecintaan umat Islam terhadap Baginda sekalipun dalam keadaan berpanas atau berhujan. - Gambar hiasan


Setelah nyata kepada kita kewajipan menyintai dan mengasihi Nabi Muhammad SAW berdasarkan dalil-dalil naqli dan aqli yang jelas, marilah pula kita cuba membincangkan tanda dan bukti kasih dan kecintaan seseorang terhadap baginda . Deklarasi cinta yang tidak disusuli dengan pembuktian amali tentu sahaja masih belum mencukupi untuk membentuk cinta sejati.

Bukti yang paling mudah dilihat, seseorang yang benar-benar mengasihi kekasihnya, akan mengutamakan insan yang dikasihinya daripada dirinya sendiri dan kehendak peribadinya. Jika tidak mencapai tahap ini hubungan tersebut belum layak dinamakan kasih sejati yang ikhlas-murni, tetapi baru sekadar dakwaan semata-mata.

Keutamaan mentaati dan mengutamakan orang yang dikasihi ini jelas dapat dilihat dalam ungkapan seorang pencinta Allah SWT dan NabiNya SAW yang tidak asing lagi, Rabi'ah al Adawiyyah dalam syairnya: "Sesungguhnya seorang kekasih itu akan taat-patuh kepada yang dikasihinya."

Selain memiliki semangat di atas, orang-orang yang benar-benar mengasihi Nabi SAW harus terdapat pada dirinya bukti dan tanda berikut:

1. Menjunjung agama Nabinya, mengamalkan Sunnahnya, menurut perkataan dan perbuatannya dalam setiap keadaan, melaksanakan suruhannya dan menjauhi larangannya. Dia juga mengamalkan adab-adab kehidupan Rasulullah SAW dalam segala keadaan, sama ada ketika susah atau pun senang, ketika gembira atau pun sedih. Ikatan antara 'kasih' dan 'taat' ini terlihat jelas dalam firman Allah SWT: "Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah akan mengasihi kamu." (ali 'Imran: 31)

Namun semangat semata-mata tidak memadai jika tidak berpaksikan di atas ilmu yang kukuh. Lebih-lebih lagi pada zaman fitnah ini, kegagalan seseorang itu mengenal mana satu Sunnah dan bidaah akan memungkinkan terjebak ke dalam lubuk bidaah yang dianggap sebagai Sunnah. Akhirnya Sunnah dipinggirkan dan bidaah ditegakkan.

Orang yang tersemat di dalam hatinya kasih yang sejati terhadap Rasulullah SAW juga, tidak akan mempedulikan kemarahan manusia lain dalam usahanya mentaati Allah SWT dan Rasul SAW.

2. Sudah menjadi adat dan lumrah berkasih, seorang kekasih akan sering menyebut dan mengingati kekasihnya. Justeru, apabila hati seseorang itu telah mengisytiharkan kecintaan terhadap Rasulullah SAW, maka lidahnya akan sering menyebut nama Kekasihnya SAW dan kotak fikirannya akan sentiasa mengingati Baginda SAW.

Selaku umat Muhammad SAW, kita amat bertuah kerana telah diajar berselawat ke atas kekasih kita Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Maka kita beruntung kerana dapat beribadah dengan menyebut, memuji dan berselawat kepada insan yang paling kita cintai dengan membaca ayat-ayat al-Quran yang memuji Nabi SAW serta lafaz selawat yang diajar sendiri oleh Baginda SAW.

Kita juga dididik oleh Nabi SAW dan ulama pewaris Baginda SAW menghormati hari dan bulan kebesaran Islam seperti Maulid al-Rasul SAW dan Isra' Mikraj dengan mengisinya dengan pelbagai amalan yang kesemuanya ada kaitan dengan Nabi SAW dalam kerangka ubudiah kepada Allah SWT. Walaupun ada segelintir di kalangan orang Islam sendiri mencurigai bacaan dan amalan-amalan ini.

Menghayati dan memperjuangkan agama seiring dengan berkasih-sayang dengan Nabi SAW dirasakan begitu indah dan menyegarkan. Sebaliknya tanpa dimensi ini, menghayati agama boleh terasa gersang dan membebankan serta cenderung membentuk jiwa keagamaan yang keras dan kasar.

3. Orang yang mengasihi Nabi SAW akan sentiasa berasa rindu untuk bertemu dengan Baginda SAW; untuk melihat zatnya di alam yang kekal abadi kelak, atau sekurang-kurangnya jika dapat menatap kelibat wajahnya yang mulia barang seketika dalam mimpi-mimpi mereka. Sudah pasti setiap kekasih sangat merindui untuk bersua dan menatap wajah kekasihnya.

Kerinduan sebeginilah yang dapat kita rasakan jika kita menyorot kehidupan generasi sahabat. Misalnya, kita dapat turut berkongsi keriangan dan kegembiraan Abu Musa al Asy'ari r.a dan rombongan kaumnya dari Yaman yang berkunjung ke Madinah.

Mereka mempercepatkan langkah dan begitu girang untuk menemui Rasulullah sambil mendendangkan syair kegembiraan: "Esok kita akan bertemu dengan para kekasih kita, Muhammad dan sahabat-sahabatnya!" Setibanya mereka di Madinah dan Masjid Nabi, mereka terus menghadap dan memuliakan Nabi SAW. (riwayat Al-Baihaqi)

4. Seseorang yang mengasihi Baginda SAW juga akan membesarkan diri dan suruhan Baginda termasuk memuliakannya ketika menyebut namanya. Malah ada yang sehingga menunjukkan rasa rendah dan hina diri ketika mendengar nama Baginda SAW disebut di hadapan mereka.

Berkata Ishaq al-Tujibi r.a, sahabat-sahabat Nabi SAW selepas kewafatan Baginda SAW tidak akan menyebut nama Baginda SAW melainkan mereka akan merendahkan diri dan menggigil serta menangis kerana diselubungi perasaan rindu yang dalam akibat berpisah dengannya.

Hal ini sangat berbeza dengan sesetengah mereka yang mengaku sebagai ahli agama pada zaman kita yang tidak mahu membesarkan dan menobatkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW tetapi hanya menumpukan kepada risalahnya dan sunnah yang dibawa olehnya. Seolah-olah Nabi SAW hanyalah berperanan seumpama posmen penghantar surat atau orang suruhan bawahan!

Sedangkan apabila seseorang makhluk itu mempunyai sifat-sifat istimewa tersebut, maka sifat-sifat itu hanya sekadar yang bersesuaian dengan kemanusiaannya yang diciptakan terbatas dan diperolehi dengan izin, kurniaan dan kehendak-Nya.

Mengasihi Nabi SAW

Ada juga sesetengah mereka yang menolak penggunaan gelaran Sayyidina bagi Nabi SAW sedangkan Nabi SAW lebih daripada layak mendapat gelaran tersebut tetapi dalam masa yang sama mereka bebas menggunakan pelbagai gelaran dalam kehidupan mereka.

5. Orang yang mengasihi Nabi SAW juga sepatutnya akan mengasihi orang yang dikasihi oleh Nabi SAW terutamanya nasab keturunannya dari kalangan ahli-ahli bait dan sahabat-sahabatnya yang terdiri daripada kaum Muhajirin dan Ansar.

Mereka juga akan memusuhi orang yang memusuhi mereka dan membenci orang yang membenci mereka dan keturunan mereka.

Hakikatnya, sesiapa yang mengasihi seseorang, dia akan mengasihi semua perkara yang disukai oleh orang yang dikasihinya.

Ini ialah sirah para Salaf al-Salih; mereka akan mengasihi segala yang dikasihi oleh Rasulullah SAW sehinggakan terhadap perkara-perkara yang sekadar diharuskan dan digemari oleh nafsu (yang tidak diharamkan oleh syarak).

Anas ibn Malik r.a misalnya, setelah melihat Rasulullah SAW mencari-cari labu di dalam dulang ketika sedang menikmati makanan, maka semenjak hari itu dia turut sentiasa suka kepada labu.

6. Orang yang mengasihi Nabi SAW akan membenci apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, menjauhi orang yang menyalahi Sunnahnya, melakukan perkara bidaah dalam agamanya dan memandang berat setiap perkara yang bercanggah dengan syariatnya.

Allah SWT menjelaskan: Engkau tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, tergamak berkasih mesra dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang yang menentang itu ialah bapa-bapa mereka, atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. (al-Mujadalah: 22)

"Mereka" yang dimaksudkan di dalam ayat di atas ialah para sahabat Baginda SAW yang telah membunuh orang yang mereka kasihi dan juga bapa-bapa mereka yang ingkar dan kafir semata-mata mengharapkan keredaan Allah. Ibnu Abbas RA menyatakan, di antara sahabat Baginda SAW yang dimaksudkan di dalam ayat itu ialah Abu Ubaidah al-Jarrah.

Beliau sanggup membunuh bapanya dalam peperangan Uhud manakala Saidina Abu Bakar r.a sanggup berlawan satu lawan satu dengan anaknya sebelum memulakan peperangan Badar, tetapi dihalang oleh Rasulullah SAW. Inilah antara bukti cinta yang tidak berbelah-bagi terhadap Baginda SAW.

7. Orang yang benar-benar mencintai Nabi SAW juga pasti akan kasih terhadap al-Quran yang diutuskan kepada Rasulullah SAW yang dengannya manusia mendapat petunjuk. Mereka akan mengikut jejak Baginda SAW yang menjiwai al-Quran dan berakhlak dengannya seperti yang ditegaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah r.ha dalam katanya, "Akhlak Baginda SAW adalah al- Quran itu sendiri".

Mengasihi al-Quran bererti membacanya, beramal dengannya, memahaminya, menjunjung suruhan dan meninggalkan larangannya.

8. Tanda kasih terhadap Nabi SAW juga ialah berasa kasih dan belas terhadap umatnya dengan memberi nasihat kepada mereka, berusaha melakukan kebaikan dan menghapuskan kemudaratan daripada mereka.

Inilah sebahagian daripada bukti dan tanda yang harus ada pada para pencinta Nabi SAW. Oleh itu marilah kita bersama-sama memuhasabah diri, adakah kita ini pencinta sejati atau pendakwa semata-mata?

Tepuk dada, tanyalah iman. Semoga Allah SWT mengurniakan kita semua kesempurnaan kecintaan kepada Rasulullah SAW!

Friday, April 17, 2009

NOT SO IMPORTANT YET......

Assalamualaikum warah matullahi wabarakatuh,
I am back again!
They said those who write about themselves are kinda showing off..someone mentioning about blogging about yourself is as if uncovering the hijab of your life..where is the privacy in life when everything is to be publicised and no longer a secret....?
HAAAAAHAHHA... then 'bodohlah gitu'! i would love to quote sr zarina's--life is an open secret- seriously really!
if you think someone can benefit from your writing be it personal or general, then alhamdulillah it will serve as a window or even gate ( relatively bigger opportunity) which will bring he/she or closer to Allah. Assidqu finniah--jadilah benar dalam niatmu.. Allah akan jadi pemandunya!

Saidina Ali said--(a sharing from my kisas friend time Nadwah kepimpinan Islam tu zaman zaman muda TKC dulu2!--dah kawen pun dia :p)

"Man qala la ila haillallah, fahua daie"
Barangsiapa menyebut tiada tuhan selain Allah maka dia adalah pendakwah...

SUBHANALLAH hebat!
maka daie itu bukan pada bicara...
A daie (a caller) can call everyone to Allah through various means available.Who knows, if ade adek2 usrah is given a task on IKHLAS, then suddenly by Allah's will, she/he found your blog very inspiring and impressive and use that as one of the materi for sharing!
Alhamdulillah, in this cyber era, there is no reason for not doing daawah-or i rather said calling people to do GOOD..coz dakwah may sounds a bit sensitive and heavy to someone who perhaps have some kind of identity crisis or conflict of interest..I DONT KNOW... Allah knows best..

NOW, supposedly i should sit still on my chair and read my PHARMACY LAW book coz next wednesday is exam.....BUT BUT BUT....just feel like writing something though not so importance yet inshaallah would be a momentum for myself to self-reflect why I AM HERE today, at this moment...who knows tomorrow will no longer be my day...
AND ALLAH KNOWS best!

Tuesday, January 6, 2009

Saturday, December 20, 2008

someone's watching over me


Someones watching over me - Hilari Duff

"Someone's Watching Over Me"

Found myself today
Oh I found myself and ran away
Something pulled me back
The voice of reason I forgot I had
All I know is you're not here to say
What you always used to say
But it's written in the sky tonight

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

Seen that ray of light
And it's shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it's taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
Someone's watching over me

It doesn't matter what people say
And it doesn't matter how long it takes
Believe in yourself and you'll fly high
And it only matters how true you are
Be true to yourself and follow your heart

So I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even if it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That I won't give up
No I won't break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong
Even when it all goes wrong
When I'm standing in the dark I'll still believe
That someone's watching over
Someone's watching over
Someone's watching over me

Someone's watching over me